\’Break\’ Dari Hubungan ??

'Break' Dari Hubungan ??

Wartalima.com – Hampir tidak mungkin jika tak pernah ada masalah selama dua orang berbeda menjalani sebuah hubungan. Terkadang masalah dirasa terlalu berat yang akhirnya membuat kata ‘putus’ sebagai solusi terakhir.

Putus memang bukan keputusan mudah, untuk itu diperlukan pemikiran panjang sebelum memutuskan hal tersebut. Cara lain biasanya dipilih, yaitu break atau vakum sejenak dari hubungan asmara agar bisa berpikir lebih jernih tentang masa depan hubungan. Entah lanjut atau harus berakhir. Namun sebelum mengucap kata break, ada beberapa pertimbangan yang perlu Anda tahu.

Mengistirahatkan hubungan yang telah dijalin bersama pasangan, dapat membantu seseorang berpikir jernih mengenai hal-hal yang selama ini terlintas di pikiran.

“Break juga dapat berfungsi sebagai sarana introspeksi sehingga mampu memandang masalah dengan lebih objektif,” tutur psikolog Ayoe Sutomo, M.Psi.,

Break yang disebabkan oleh perbedaan pendapat atau pertengkaran hebat dengan pasangan dapat membuat rasa emosi memuncak dan membuat Anda tertekan. Oleh karena itu, selama masa break, sebaikanya buang jauh-jauh pikiran yang dapat meningkatkan rasa marah sehingga hidup menjadi lebih tenang dan dapat memikirkan masalah yang dihadapi dengan kepala dingin.

Di luar dari itu, kebiasaan break juga dapat menjadi alat untuk lari dari masalah. Hal ini bisa terbawa terus sampai ke hubungan yang selanjutnya, apabila break berujung pada putusnya jalinan asmara. Kebiasaan break juga membuat orang cenderung tidak menghargai hubungan dengan kekasihnya, dan berujung hubungan yang tak sehat.

“Kalau ada masalah dikit-dikit break, ‘Ah gampang nanti break aja kan bisa’, ini nggak bagus dan malah membuat hubungan jadi tidak sehat,” tutur Kei Savorie, seorang konsultan cinta.
Memutuskan untuk break juga dirasa terlalu mengulur waktu sehingga permasalahan semakin berlarut-larut dan tidak ada kejelasan dari kedua belah pihak. Untuk hal ini, Kei menyarankan agar tidak perlu menunda permasalahan dengan melakukan break, cukup dengan dua hingga tiga hari untuk berpikir tentang langkah selanjutnya yang harus diambil.

Kei juga mengatakan bahwa orang yang tidak bisa mengendalikan emosi, justru akan lebih cepat memutuskan untuk break, namun beberapa hari kemudian memohon-mohon untuk kembali berhubungan lagi. “Dia emosinya berubah-ubah dan sering seperti ini, jadi seperti psycho ya. Menurut saya yang break ini lebih lemah, bilang putus aja nggak berani,” ucapnya mengakhiri perbincangan.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *